Sabtu, 28 Juni 2014

PERMAINAN MEGOAK-GOAKAN


PERMAINAN MEGOAK-GOAKAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, yang bertujuan untuk mengembangkan aspek spiritual, aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang diajarkan disekolah maupun diperguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting, yaitu: memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui kativitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.
            Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Salah satunya adalah pendidikan olahraga yang menginkludkan ke dalam sebuah permainan tradisional yaitu Permainan Megoak-Goakan, dimana kini permainan tersebut mulai banyak ditinggalkan oleh anak-anak. Selain mengandung nilai sejarah yang tinggi, permainan ini juga memberikan aspek kebersamaan dan kerja keras bagi yang memainkannya. Yang paling menonjol adalah unsur kompetitifnya, sehingga benar-benar cocok selain sebagai upaya pelestarian seni dan budaya juga bernilai olahraga yang tinggi

1.2 Rumusan Masalah
            Dari uraian latar belakang diatas dapat dipaparkan beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1.      Bagaimana sejarah permainan Megoak-Goakan?
2.      Apakah yang dimaksud Megoak-Goakan?
3.      Apakah fungsi dan bagaimana cara bermain dari permainan Megoak-Goakan?
4.      Nilai-nilai apa yang terkandung dalam permainan Megoak-Goakan?

1.3 Tujuan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :
  1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah permainan dari Megoak-Goakan
  2. Mengenal dan mengerti tentang apa yang dimaksud dengan Megoak-Goakan
  3. Mengetahui fungsi dan bagaimana cara bermain Megoak-Goakan
  4. Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam permainan Megoak-Goakan




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Magoak-Goakan
            Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa. Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “SUKASADA” yang artinya selalu Bersuka Ria. Selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat. Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.
            Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.
            Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.

2.2 Pengertian Megoak-Goakan
            Megoak-Goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Megoak-Goakan merupakan permainan tradisional rakyat khususnya khas Desa Panji yang biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba. Nama Megoak-Goakan sendiri diambil dari nama Burung Gagak (Goak yang gagah) yang terilhami ketika melihat burung ini tengah mengincar mangsanya. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. Secara turun-temurun Megoak-Goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Ketika merayakan acara Megoak-Goakan ini suasana kekeluargaan dan kegembiraan warga yang merayakannya akan sangat terasa sekali. Meskipun tak jarang para peserta yang melakukannya harus jungkir-balik karena memang arena yang dipakainya miring, namun sama sekali tak mengendurkan semangat dan antusiasme warga yang mengikutinya.
            Bagi warga yang sudah ikut, bisa langsung pulang atau menonton rekannya bermain. Dalam permainan tradisi kolot ini, satu regu terdiri dari 11 peserta yang melawan kelompok yang lainnya dengan jumlah yang sama. Supaya tertib, maka dalam arena permainan diatur oleh pecalang. Disebutkan filosofi permainan ini, sebagai wujud purusa pradana (laki-laki melawan perempuan). Disebutkan, dalam satu kelompok goak terdiri dari sebelas orang. Sementara penentuan kemenangan adalah kelompok Goak-goakan yang pertama kali mampu menangkap ekor (orang paling belakang) dalam kelompok lawannya. Maka dialah pemenangnya.
            Lokasi Perayaan Tarian Megoak-Goakan dirayakan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada sekitar 6 km ke selatan Kota Singaraja.  Oleh masyarakat Buleleng (Bali utara) permainan-ini benar-benar mempunyai nilai heroik, karena berkat taktik inilah raja Panji Sakti dapat mengobarkan semangat juang yang spontan dari pada rakyatnya. Permainan ini tetap disukai oleh masyarakat Buleleng, bahkan meluas ke seluruh Bali. Memang daerah-daerah diluar Kabupaten Buleleng menganggap permainan ini tidaklah sekhidmad daerah Buleleng. Daerah-daerah diluar Buleleng menganggap permainan ini dipakai sebagai permainan yang baik, karena disamping bernilai hiburan, olahraga, juga ada unsur seninya.
            Oleh karena itu permainan ini dari sejarah kelahirannya sekitar abad ke 16, dan sekarang akan diangkat untuk dijadikan seni pertunjukan. Sebenamya kalau diangkat menjadi tari masih banyak sekali memerlukan persyaratan. Tetapi untuk diangkat sebagai "media pertunjukan" tidaklah terlalu sulit, karena ia sudah memenuhi syarat bagi sebuah per­mainan rakyat, bahkan yang paling menonjol unsur kompetitifnya, karena itu benar-benar bernilai olahraga.

2.3 Cara Bermain dan Fungsi Megoak-Goakan
                Megoak-Goakan merupakan permainan yang diikuti oleh banyak peserta maksimal sepuluh orang. Satu orang menjadi goak dan sembilan orang sisanya menjadi ular dengan bentuk berjejer seperti berbaris. Kemudian setelah pesiapan siap dan permainan dimulai, si Goak langsung mengejar ekor (orang yang paling belakang) dari barisan ular tersebut. Dengan arah berhadap-hadapan antara ular dan goak, kepala ular (orang yang pertama di barisan ular) menghalang-halangi goak untuk mengejar ekor si ular dan yang menjadi ekor ular akan terus berusaha menghindar dari dekapan si goak. Seandainya dalam permainan ini ekor ular tersebut di dapatkan oleh si goak, maka yang menjadi ekor ular tersebut berganti menjadi goak dan yang menjadi goak sebelumnya menjadi kepala ular yang akan menjaga seluruh badan ular, begitu pula seterusnya.
            Fungsi yang sangat terpenting dalam permainan ini adalah kerjasama antara semua orang dalam barisan ular tersebut dan kegigihan orang yang menjadi goak untuk mendapatkan ekor si ular.

2.4 Nilai-nilai yang Terkandung dalam Permainan Megoak-Goakan
                Permainan ini memiliki nilai afektif, kognitif dan npsikomotor sebagai bentuk dari pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Lebih terperinci sebagai berikut :
a.      Nilai afektif
            Nilai afektif adalah nilai keaktifan dalam melaksanakan permainan ini. Nilai afektif yang terkandung adalah  saat anggota serius dan sportif dalam bermain damelaksanakan tugas dengan baik dan benar. Permainan Megoak-Goakan juga mengajarkan nilai kebersamaan/kekompakan, nilai kegigihan, dan heroik para pemain. Kita juga diajak untuk melestarikan permainan tradisional yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.
b.      Nilai kognitif
            Nilai kognitif yaitu nilai tertulis berdasarkan penguasaan materi atau pengetahuan pemain. Peserta pemain Megoak-Goakan dinilai baik apabila anggota mengerti aturan main dan memahami perannya sebagai goak dan seekor ular. Disini pemain yang manjadi goak akan diasah kemampuan kognitifnya dalam mengolah taktik atau strategi agar ia dengan cepat dapat menangkap ekor ular dengan halangan dari kepala ular yang berada di depan.
c.       Nilai psikomotor
            Nilai psikomotor adalah nilai prilaku dalam permainan. Nilai ini berupa kehadiran dan mentaati peraturan bermain. Pemain memiliki psikomotor yang baik harus melaksanakan permainan sesuai peraturan permainan. Pemain Megoak-Goakan harus sportif dalam upaya menangkap ekor ular.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.
            Megoak-Goakan merupakan permainan yang diikuti oleh banyak peserta maksimal sepuluh orang. Satu orang menjadi goak dan sembilan orang sisanya menjadi ular dengan bentuk berjejer seperti berbaris. Kemudian setelah pesiapan siap dan permainan dimulai, si Goak langsung mengejar ekor (orang yang paling belakang) dari barisan ular tersebut. Dengan arah berhadap-hadapan antara ular dan goak, kepala ular (orang yang pertama di barisan ular) menghalang-halangi goak untuk mengejar ekor si ular dan yang menjadi ekor ular akan terus berusaha menghindar dari dekapan si goak. Fungsi yang sangat terpenting dalam permainan ini adalah kerjasama antara semua orang dalam barisan ular tersebut dan kegigihan orang yang menjadi goak untuk mendapatkan ekor si ular. Nilai yang terkandung dalam permainan ini adalah nilai kognitif, afektif, dan psikomotor.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Warisan Budaya Indonesia. Tersedia di http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/2199/Megoak-goakan. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014
Anonim. 2013. Sejarah Megoak-Goakan. Tersdia pada https://www.facebook.com/permalink.php?id=104661256296076&story_fbid=431771740251691. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014
  


Oleh: 
Kelas B / Semester IV
PGSD FIP UNDIKSHA

1.        Ni Komang Sri Utami                             (1211031124)
2.        Ni Wayan Suitriani                               (1211031122)
3.        Ni Ketut Alit Aryani                              (1211031220)
4.        Gede Pera Surpadiana                             (1211031078)
 

0 komentar:

Posting Komentar