Jumat, 17 Mei 2013

6 Kisah Nyata Tokoh Inspiratif Sukses

6 Kisah Nyata Tokoh Inspiratif Sukses

Bila Anda ingin sukses tapi merasa bahwa masalah ekonomi keluarga, keterbatasan fisik atau kesehatan, kegagalan di masa lalu, kurangnya dukungan dari keluarga, atau hal lainnya akan menjadi penghalang besar demi terwujudnya cita-cita itu, cobalah lihat sejenak kisah para tokoh sukses dunia berikut ini yang mungkin dapat menginspirasi kita semua untuk bangkit kembali.

#Oprah Winfrey, Hartawan Media

Kisah hidup Oprah Winfrey adalah salah satu kisah “gelandangan menjadi kaya raya” yang paling terkenal. Ia tumbuh dalam kemiskinan dengan ibunya dan mengalami penganiayaan seksual dari kerabatnya, sebelum akhirnya kabur dari rumah ketika masih berumur 13 tahun.
Namun, ia mampu bangkit dari keterpurukan itu dan akhirnya tinggal bersama ayahnya, yang sangat disiplin. Ia menjadi siswa teladan di sekolahnya dan berhasil mendapatkan beasiswa ke Tennessee State University. Setelah lulus, ia bekerja sebagai pembawa berita di televisi lokal sebelum pindah ke Chicago dan menjadi pemandu acara bincang-bincang bernama AM Chicago, yang akhirnya berubah menjadi The Oprah Winfrey Show. Melalui acara populernya inilah, Oprah memikat hati jutaan penonton tidak hanya di Amerika, tapi juga di seluruh dunia.

#J.K. Rowling, Penulis Miliarder

Meskipun sepertinya J.K. Rowling sudah punya segalanya, ia ternyata pernah mengalami masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Dalam sebuah wawancara dengan Oprah, J.K. Rowling menggambarkan dirinya sebagai “orang yang sangat miskin yang bisa ditemukan di Inggris tapi tanpa menjadi tunawisma.”
Penulis miliarder ini kehilangan ibundanya akibat penyakit Multiple Sclerosis ketika usia Rowling masih 25 tahun. Rowling juga menderita depresi klinis, dan berjuang keras menjadi orangtua tunggal. Tapi pengalaman-pengalaman itulah yang menyebabkan buku-bukunya begitu fenomenal. Serial Harry Potter adalah sebuah cerita yang benar-benar mampu merefleksikan kehidupan jutaan orang karena Rowling mencurahkan segala hal yang telah dilalui dan dialaminya ke dalam tulisannya.

#Chris Gardner, Pengusaha dan Dermawan

Pernahkah Anda menonton film “The Pursuit of Happyness“? Tokoh utama Chris Gardner, yang diperankan dengan apik oleh Will Smith, bukanlah tokoh rekaan. Kisah hidupnya yang digambarkan dalam film ini pun benar-benar nyata dan dialami sendiri oleh seorang Chris Gardner. Ia yang awalnya gelandangan berubah menjadi seorang pialang saham yang sukses. Kesuksesannya berawal dari kesempatan magang yang diperolehnya di perusahaan pialang Dean Witter Reynolds.
Meski tak punya gelar sarjana dan miskin pengalaman, Chris punya tekad bulat. Ia bekerja keras untuk menjadi peserta magang terbaik dan peluang menjadi karyawan di perusahaan pialang itu dengan gaji sebesar $1.000 per bulan. Ia bersama putra tunggalnya tinggal di sebuah rumah singgah untuk sementara waktu, karena tak mampu membiayai tagihan sewa rumah. Akhirnya, Chris mampu meraih posisi tetap di Dean Witter, lalu pindah ke Bear Stearns di mana ia menjadi salah satu karyawan terbaik di perusahaan itu. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri dan menulis novel kisah hidupnya yang mendapat penghargaan sebagai best-seller versi New York Times, dan akhirnya diangkat ke film yang dibintangi Will Smith.

# Steve Jobs, Visioner Apple

Dunia dikejutkan ketika ahli teknologi Steve Jobs, mantan CEO Apple, meninggal pada tahun lalu. Tidaklah sulit untuk memahami kenapa kematiannya itu membuat hampir kita semua merasa kehilangan. Steve bisa dikatakan telah berjasa besar bagi dunia teknologi. Ia benar-benar mengubah peta industri komputer, ponsel, dan alat-alat elektronik. Beberapa penampilan publiknya menunjukkan betapa besarnya passion yang dimiliki Steve terhadap produk-produknya. Rasa antusiasmenya itu bersifat menular.
Steve adalah contoh nyata inspiratif yang membuktikan bahwa sebuah tekad seseorang untuk mengejar mimpi-mimpi itu berdampak besar. Awalnya ia dipecat oleh Apple pada tahun ’80-an lalu kembali lagi ke Apple dan merevolusi perusahaan itu dan industri PC.
Dalam pidatonya yang terkenal pada acara wisuda di Stanford, Steve berkata, “Mengingat saya akan meninggal nantinya menjadi alat terpenting yang membantu saya membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup. Karena hampir segala hal-semua harapan, kebanggaan, kekhawatiran akan kegagalan dan perasaan malu-akan hilang begitu kematian datang menghampiri, dengan menyisakan hanya hal yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita akan mati suatu hari nanti adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari dari perangkap pemikiran bahwa kita telah gagal. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati.”

# Howard Schultz, CEO Starbucks

Howard Schultz, CEO dan Pemimpin Starbucks, menjalani masa kecilnya di rumah susun tapi berhasil keluar dari keadaannya itu melalui olahraga. Ia mendapat beasiswa atletik dan menjadi orang pertama dalam keluarganya yang mencicipi bangku kuliah.
Dalam perjalanan kariernya, Howard Schultz bergabung ke Starbucks pada 1982 sebagai kepala marketing dan operasi-operasi ritel. Ia lalu keluar dan mulai menjalankan kedai kopinya sendiri setelah terinspirasi budaya minum kopi di Italia. Tapi ia segera membeli Starbucks dari pemiliknya terdahulu pada 1987. Karena pernah merasakan hidup serbakekurangan, Howard menjadi seorang CEO yang memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil. Starbucks memberikan jaminan kesehatan yang sangat besar kepada para karyawannya, dan bahkan pada karyawan paruh waktunya. Malah, perusahaan itu mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk asuransi kesehatan dibanding untuk bahan material penjualan mereka, yaitu kopi.

# Michael Jordan, Superstar Bola Basket

Dikenal sebagai pemain basket terbaik sepanjang masa, Michael Jordan tidak begitu saja mendapatkan keberhasilannya itu. Ia bahkan harus berjuang keras meraihnya. Meskipun kemampuannya tak diragukan lagi, tinggi badannya tidak memenuhi syarat untuk menjadi salah satu anggota tim basket kampusnya. Mahasiswa lain yang setingkat dengannya, Leroy Smith, malah berhasil diterima dalam tim kampus.
Michael merasa marah sekaligus dipermalukan, tapi energi emosionalnya itu ia curahkan dan gunakan untuk menjadikan dirinya seorang pemain yang jauh lebih baik. “Setiap kali berlatih dan merasa lelah juga mulai timbul niatan untuk menyerah, saya akan menutup mata dan membayangkan daftar nama pemain di kamar ganti tanpa nama saya tertera di sana,” kata Jordan. “Dan biasanya hal itu akan membuat saya bangkit kembali.”
Michael akhirnya berhasil menjadi anggota tim kampus dua tahun kemudian, memperoleh beasiswa ke University of North Carolina, dan lalu direkrut Chicago Bulls. Dan sisa perjalanan hidupnya adalah sejarah, demikian penuturan Michael.
***
Ketiga tokoh di atas memperlihatkan pada kita bahwa penderitaan atau penolakan dalam hidup itu bukanlah hal yang luar biasa. Yang menjadi luar biasa apabila kita tak pernah berhenti untuk melangkah meski didera segala rintangan dan halangan, apabila kita tetap melangkah tegap menghadapi semua hadangan itu. Karena seperti yang digambarkan pada kisah hidup tokoh-tokoh di atas, di balik setiap kemalangan dan penderitaan pasti akan ada titik terang, pasti akan ada titik akhir yang lebih baik. Itu semua bisa didapat jika kita pantang menyerah.

0 komentar:

Posting Komentar